image
17 Maret 2018 | 10:12 WIB | Medis

Nyeri Menjalar Hingga Kaki? Hati-hati Mungkin Anda Terkena HNP

Oleh

Dokter Spesialis Bedah Saraf RS Columbia Semarang

dr Dody Priambada SpBS

PERNAHKAH Anda merasakan nyeri di bagian pinggang dan rasa nyerinya menjalar hingga ke kaki? Jika demikian keadaannya, mungkin anda menderita penyakit HNP atau masyarakat awam sering menyebutnya dengan “saraf kejepit”.

Nyeri akibat saraf kejepit atau HNP memang sangat menyiksa. Banyak orang yang mengalami sakit pinggang dan tungkai (paha hingga kaki) serta kelemahan pada anggota gerak bawah didiagnosis dengan HNP. 
Sebenarnya apakah yang dimaksud penyakit HNP ? Apakah berbahaya ? dan Bagaimana cara mengatasi dan mengobatinya?

Dokter spesialis Bedah Saraf RS Columbia Semarang, dr. Dody Priambada, SpBS menginformasikan bahwa sebelum membicarakan tentang HNP, masyarakat perlu tahu apa dan bagaimana susunan tulang belakang terlebih dahulu, karena penyakit ini berhubungan dengan tulang belakang.

Pada tulang belakang, tersusun atas ruas-ruas tulang yang dihubungkan menjadi satu kesatuan melalui persendian, mulai dari daerah leher sampai tulang ekor. Ruas tulang yang di atas dihubungkan dengan ruas di bawahnya oleh sebuah bantalan yang disebut diskus intervertebralis (persendian pada tulang belakang).

“Nah, di dalam bantalan ruas tulang belakang tersebut, terdapat suatu bahan pengisi seperti jeli kenyal (bantalan) yang disebut nucleus pulposus. Seperti pada mobil dan motor, bantalan tersebut berfungsi sebagai  “shock breaker” (peredam getaran) dan memungkinkan tulang belakang dapat bergerak lentur,” terangnya.

Secara awam dapat dijelaskan bahwa arti dari hernia adalah ada suatu barang yang keluar dari tempatnya, kemudian nucleus pulposus adalah bantalan diantara ruas-ruas tulang belakang. “Jadi, HNP adalah singkatan dari Hernia Nucleus Pulposus yaitu nyeri yang disebabkan keadaan di mana bantalan lunak di antara ruas-ruas tulang belakang (jeli kenyal atau nucleus pulposus) mengalami perubahan atau gangguan dikarenakan keluar dari tempat semestinya,” terangnya.

Saat tulang-tulang belakang kita bergerak, maka bantalannya pun ikut bergerak karena bantalan tersebut yang membuat kita nyaman dalam bergerak (tidak nyeri), tetapi jika bantalannya rusak, keluar pada jalur yang tidak semestinya, maka bantalan akan menekan saraf dan hal itulah yang membuat pasien merasakan nyeri kesakitan.

“Sebagian besar penyebab penyakit HNP adalah karena awalnya merupakan penyakit degeneratif, yaitu penurunan fungsi organ tubuh karena umur yang menua. Jadi sebenarnya bantalan tersebut ada yang menjaga dan kebetulan karena umur serta kurangnya menjaga gaya hidup bisa juga akibat cara mengangkat barang dengan teknik yang salah sehingga penjaga bantalannya pun mulai rusak dan membuat bantalan tersebut keluar,” terangnya.

Pada HNP, gejala nyerinya adalah dari pinggang menjalar ke kaki, jika di leher nyerinya menjalarnya ke tangan. Mengapa bisa menjalar, karena saraf manusia jika keluar jalur maka akan mengakibatkan aliran saraf yang sesuai jalur yang keluar tersebut akan ikut terganggu dan mengakibatkan nyeri.

“Pada dokter yang teliti, dokter akan melihat keluarnya di jalur mana, sehingga nanti memiliki pola-pola khas dalam nyerinya ditempat yang sesuai jalur saraf tersebut. Jadi khasnya HNP itu adalah nyeri yang menjalar, karena jika cuma nyeri pinggang biasa tidak akan menjalar. Kemudian, nyeri dapat timbul setiap saat tidak terbatas apakah sedang beraktifitas atau lagi istirahat,” ungkapnya.

Untuk, penegakan diagnosisnya, pada proses awal dokter akan melakukan wawancara dan pemeriksaan fisik, kemudian yang juga penting dapat dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya. Misalnya saja seperti CT scan yang berguna untuk mendapatkan gambaran tentang kondisi kolom tulang belakang dan struktur di sekitarnya ataupun dilaksanakan pemeriksaan MRI tujuannya untuk memastikan di mana lokasi terjadinya HNP dan saraf mana yang ikut terpengaruhi. 

“Kemudian biasanya juga dilakukan pemeriksaan Elektromiografi (EMG) adalah teknik yang digunakan untuk mengevaluasi fungsi saraf dan otot dengan cara merekam aktivitas listrik yang dihasilkan oleh otot. Ini merupakan tes penting yang digunakan untuk mendiagnosis kelainan otot dan saraf. Pasien juga sebaiknya foto Rontgen untuk memastikan bahwa gejala yang dialami pasien bukan disebabkan oleh patah tulang, tumor, atau infeksi,” jelasnya.

Sedangkan untuk pengobatannya, dokter akan melihat seberapa parah derajat penyakit tersebut terlebih dahulu, hingga nanti menentukan apakah hanya perlu terapi biasa atau justru harus dilaksanakan operasi. Walau demikian, terkadang banyak pasien HNP yang takut berobat ke dokter karena tak mau dioperasi. Padahal, sekitar 70-80 persen kasus HNP tidak memerlukan operasi.

“Ada 4 derajat dalam penentuan tingkat intervensi yang akan dilakukan. Jika masih dalam derajat 1-2, maka tidak memerlukan operasi, cukup dengan terapi konvensional dan dapat disuntik untuk meringankan keluhan nyerinya (atau dengan obat-obatan) serta dianjurkan fisioterapi rutin dengan berenang. Jika rutin dilakukan (berenang), banyak pasien yang dapat pulih seperti semula,” terangnya.

Kemudian untuk derajat 3-4, jika bantalan tersebut keluar dari jalur sangat banyak dan lapisan pelindung bantalan sudah rusak serta sobek maka harus dilakukan intervensi dengan operasi, tingkat keberhasilan operasi pun sangat tinggi. Setelah operasi, pasien akan langsung pulih dan nyerinya pun akan hilang.

“Tindakan operasi yang dilakukan adalah disektomi, yaitu pemotongan dan pengangkatan sebagian atau seluruh bantalan yang menjepit saraf. Apabila dilakukan pengangkatan bantalan secara keseluruhan, maka tulang belakang dapat disangga dengan pemasangan cakram buatan sebagai pengganti bantalan,” ujar dokter yang humoris tersebut.

Walaupun operasi menjadi pilihan terbaik untuk pemulihan, perlu diingat bahwa pasien masih perlu menjaga kondisi dan mengubah pola aktivitas untuk menghindari efek samping atau komplikasi pasca operasi. Untuk mengoptimalkan pemulihan, dokter biasanya akan merekomendasikan program terapi dan rehabilitasi.

“Untuk pencegahannya, bagi yang belum terkena penyakit ini, usahakan selalu melakukan olahraga yang rutin, akan lebih baik jika rutin berenang atau bersepeda. Kemudian berat badan dikurangi agar beban tulang belakang tidak terbebani, tidur dengan alas yang rata jika perlu dapat memakai korset agar tulang belakang terlindung. Kemudian jika mengangkat beban, harus dengan teknik yang benar,” ungkapnya.

Selain itu, sebaiknya selalu hindari cedera pada tubuh. Sesuaikan aktivitas dengan kekuatan tubuh Anda, dan jangan melakukan pergerakan mendadak yang dapat mengakibatkan cedera pada tulang punggung atau sekitarnya.

Jika Anda mengalami gejala peyakit HNP seperti nyeri leher atau nyeri punggung bawah yang menjalar lengan atau kaki, atau jika itu disertai dengan mati rasa, kesemutan atau kelemahan, maka segeralah periksa ke dokter untuk mendapat kepastian serta pengobatan yang sesuai. Jangan takut berobat, karena pengobatan HNP tidak selalu harus dengan operasi. 

 

(Red /CN33 )