image

Candi Muara Takus, peninggalan Kerajaan Sriwijaya. (Foto: Istimewa)

13 Desember 2017 | 05:10 WIB | Kronik

Megahnya Sriwijaya dalam Kejayaan Sejarah Nusantara

KERAJAAN Sriwijaya adalah suatu kerajaan pantai, negara perniagaan dan negara yang berkuasa di laut. Sebagai kerajaan pantai, ibukota Sriwijaya memang terletak di tepi air, penduduknya terpencar di luar kota, atau tinggal di atas rakit-rakit yang beratapkan alang-alang.

Jika sang raja keluar, ia naik perahu dengan dilindungi payung sutera dan diiringi oleh orang-orang yang membawa tombak emas. Tentaranya sangat tangkas dalam peperangan, baik darat maupun di laut, keberaniannya tidak ada bandingnya. Bahkan dikatakan oleh Macintyre bahwa warga negara Sriwijaya merupakan komunitas yang termiliterisir (militarized community).

Adapun awal keberadaan Sriwijaya justru dapat dilacak dari berita Tionghoa yang menyebutkan bahwa di Sumatra pada abad ke-7 sudah ada kerajaan-kerajaan antara lain To-lang-po-hwa (Tulangbawang di Sumatra Selatan), Mo-lo-yeu (Melayu di Jambi, Ki-li-p'i-che atau Che-lifo-che (Criwijaya).

Menurut berita Cina diperoleh informasi bahwa Sriwijaya adalah salah satu pusat perdagangan terpenting antara Asia Tenggara dengan Cina. Bahkan dengan penuh kebanggaan, seorang Maharaja Sriwijaya menulis surat kepada Kaisar Cina dari dinasti Sung pada tahun 1017 bahwa dirinya adalah "raja dari tanah-tanah kepulauan di lautan", king of the ocean lands. 

Berita Cina menyebutkan bahwa adat di Kan-to-li sama dengan adat di Kamboja dan Campa. Ini berarti bahwa bagi orang-orang Cina keadaan di ketiga tempat tadi sama. Besar kemungkinan bahwa dunia perdagangan di Sumatra sejak semula telah terlibat langsung dengan perdagangan di India. 

Demikian kuatnya Sriwijaya sehingga mempunyai kekuasaan yang cukup luas mulai dari Selat Malaka hingga Selat Sunda. Sriwijaya berusaha mempertahankan hegemoni perdagangan atas Indonesia, dengan mengawasi dan menguasai kedua Selat itu, yang harus dilalui oleh semua perjalanan laut antara India dan Cina.

Bukti lain yang menguatkan keintiman hubungan Sriwijaya-Cina adalah dengan banyaknya saudagar besar berlogat Kanton, Chen Tsu-I, dan beberapa imigran Cina lainnya yang menetap di Sriwijaya. Mereka rata-rata ingin memperoleh suaka politik di Palembang, akibat pengejaran kaisar pertama rezim Ming. Hubungan Cina-Sriwijaya juga berhasil menelurkan kegiatan perdagangan, pelatihan militer, pertukaran cinderamata, hingga pembangunan kembali Kuil Tien Tjing sekitar tahun 1079 Masehi di Kanton. 

Duta-duta Muslim yang dikirim oleh Sriwijaya ke Kekasiaran Cina antara abad 10 hingga 12 Masehi juga menjadi bukti harmonisasi hubungan Sriwijaya-Cina dalam kegiatan perdagangan. Pengiriman duta tersebut juga disertai dengan sejumlah hadiah, salah satunya adalah Ts'eng-chi yang diduga berasal dari kata Arab Zanji yang berarti budak perempuan negro. 
 

(Fadhil Nugroho Adi /SMNetwork /CN41 )