image

Foto: ebromo.com

09 Januari 2018 | 02:03 WIB | Kejawen

Membuka Selubung Ritual Seks di Gunung Kemukus

Gunung Kemukus sudah lama kondang dengan kemistisan yang melingkupinya. Banyak orang datang untuk berziarah dan menjalankan ritual demi mencari kekayaan. Yang tak lazim, para pelaku ritual itu menjalankan hubungan suami istri meski bukan dengan pasangan sahnya.

Tentu fenomena ini membuat banyak masyarakat mengernyitkan dahi. Saking mengherankannya, sebuah situs media online asal Inggris memuat ritual tersebut dengan tajuk The World: An Indonesian Festival of Sex with Strangers.

Entah darimana asalnya ritual seks ini bermula. Namun dari cerita tutur masyarakat, ada yang menyebut ritual ini didasarkan pada kesalahan yang dilakukan Pangeran Samudro dengan ibunya, R. Ay Ontrowulan. Padahal sebetulnya apa yang dilakukan ibu dan anak itu wajar saja. Ada pemelencengan dari riwayat yang melibatkan Pangeran Samudro dan ibundanya.

Syahdan, saat Pangeran Samudro menuntaskan misinya berdakwah ke Tanah Jawa, ia sakit keras dan harus dimakamkan di sekitar lereng Lawu. Mengetahui anaknya telah tiada, R. Ay Ontrowulan berziarah ke makam Pangeran Samudro dan memutuskan bermukim di dekatnya. Sampai pada suatu ketika ia merasa bertemu kembali dengan putranya serta dapat bertatap muka dan berdialog secara gaib. Beliau kemudian moksa, lantaran tidak ditemukan jasadnya di sekitar makam Pangeran Samodra.

Namun sayangnya pelaku ritual Gunung Kemukus telanjur keliru. Sebab ada riwayat menyimpang yang berkisah bahwa Pangeran Samudro dan R. Ay Ontrowulan melepas rindu kemudian berhubungan intim di sana. Keduanya yang terpergok warga lantas dibunuh. Sebelum meninggal, Pangeran Samudro konon berpesan, siapapun yang bisa melanjutkan hubungan intim mereka, segala permintaannya bakal terkabul.

Harus Rutin

Untuk menyempurnakan ritual, apabila inginngalap berkahatau permohonannya terkabul, maka orang yang datang ke Makam Pangeran Samudro harus melakukan ritual berhubungan intim dengan lawan jenis yang bukan suami atau istrinya selama tujuh kali dalam satulapan( 1lapan= 35 hari).

Ritual tersebut merupakan pelengkap setelah mandi di Sendang Ontrowulan, mata air yang terletak beberapa ratus meter sebelah timur makam, dan nyekar di makam Pangeran Samudra. Dahulu, hubungan intim itu dilakukan bahkan secara massal. Bukan cuma satu atau dua, melainkan ratusan pasang peziarah melakukannya di alam terbuka.

Ritual yang melibatkan pasangan tidak sah itu dilakukan selama tujuh kali berturut-turut  setiap hari pasaran di malam Jumat Pon. Konon diyakini, jika seseorang yang ritualnya berhasil tidak kembali ke Gunung Kemukus untuk menggelar selamatan, maka celaka akan menanti orang tersebut. Bahkan bisa jadi ia miskin kembali.

Tak hanya itu, seseorang yang telanjur terjun dalam ritual ini harus memelihara pasangan selingkuh hingga akhir hayatnya. Hal ini bertujuan untuk ngingoni  atau memelihara kesakralan doanya yang dikabulkan di makam Pangeran Samudro. Tentu perbuatan semacam ini tidak pernah diperbolehkan di agama manapun. Selain mengingkari kuasa Tuhan dalam memberi rezeki, juga menimbulkan resiko tertular penyakit seksual.

Namun di luar ritual itu, makam Pangeran Samudro memang ramai diziarahi setiap hari. Biasanya jumlah peziarah yang datang lebih banyak setiap Kamis malam. Khususnya setiap Kamis malam Jumat Pon dan Kamis malam Jumat Kliwon. Tidak kurang dari 10.000 pengunjung dari berbagai daerah di Jawa dan luar Jawa datang untuk berziarah di tempat ini.Selain itu pada minggu pertama bulan Suro/Muharam diadakan pensucian kelambu makam Pangeran Samudro, yang biasa disebut dengan ritualLarab Slambu/Larab Langse.

 

(Berbagai sumber /SMNetwork /CN41 )