image

MEMBUAT PETI: Salimin (57), warga Desa Rancamaya bekerja sebagai pembuat peti telur setelah jatuh dari pohon kelapa.  (SM/Puji Purwanto)

31 Desember 2017 | 03:13 WIB | Liputan Khusus

Ironi Penderes di Sentra Gula Kelapa

DIANTARAtumpukan potongan kayu di gubuk berukuran lima kali enam meter persegi, Salimin (57) terlihat sibuk membuat peti telur. Ia setiap hari menghabiskan waktu dari pukul 08.00 hingga 17.00 di gubuk itu sendirian.

Sehari warga Desa Rancamaya, Kecamatan Cilongok, Banyumas itu mampu membuat 50 peti telur. Ongkos satu peti telur dihargai Rp 300, berarti dalam sehari penghasilannya Rp 15.000 atau sebulan rata-rata Rp 390.000.

Ia sadar penghasilan yang diperoleh bekerja membuat peti telur kecil. Bahkan, kalau dihitung belum mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Namun, aktivitas itu kini menjadi satu-satunya mata pencahariannya, usai ia terjatuh dari pohon kelapa saat mengambil nira pada 1987 silam. 

"Memang hasilnya sedikit, tapi tetap saya lakukan daripada menganggur," ujarnya saat ditemui sedang membuat peti telur di Desa Rancamaya, Senin (25/12).

Salimin mengaku sudah tidak ingat lagi hari dan bulan apa peristiwa mengenaskan yang dialaminya itu. Ia hanya ingat tahun saja. Pria yang memiliki empat anak itu terjatuh karena terpeleset usai menyadap nira sekitar pukul 06.00 atau baru memanjat tiga pohon kelapa.  

Saat jatuh dari pohon kelapa dengan ketinggian 20 meter, ia dalam keadaan sadar. Namun, kedua kakinya tak dapat digerakkan karena syaraf kakinya sudah tidak bisa berfungsi.   

Salimin hanya bisa terbaring di kamar tidur hingga satu tahun. Ia tidak dibawa ke rumah sakit karena terbentur biaya, tetapi hanya memanfaatkan jasa mantri dan tukang urut.

Kala itu tidak ada perhatian sama sekali dari pemerintah daerah untuk para penderes. Penderes yang mengalami kecelakaan kerja harus menanggung biaya perwatannya sendiri. Tak heran sebagian besar penderes yang jatuh dilarikan ke pengobatan alternatif. 

Saat menjalani proses penyembuhan di rumah, Salimin tidak lagi memiliki penghasilan. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, isterinya terpaksa harus bekerja serabutan dan berjualan ondol singkong - makanan tradisional khas Banyumas. 

"Saya selama satu tahun menjadi beban isteri. Penghasilan berjualan ondol singkong tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarga," tuturnya mengisahkan.

Melihat kocar kacirnya ekonomi keluarga, ia mulai berusaha melatih menggerakkan kakinya dan mencoba berdiri. Ini dilakukan hampir selama delapan bulan. Ia juga
tidak lupa terus berdoa minta kesembuhan dari Tuhan. 

"Saya selalu salat malam dan berdoa agar diberi kesembuhan dan umur panjang supaya bisa bekerja kembali untuk menghidupi anak isteri. Apalagi, anak pertama kami saat itu mulai masuk sekolah dasar dan membutuhkan biaya besar," katanya. 

Seiring waktu ia mulai bangkit. Kedua kakinya mulai dapat digerakkan dan berlatih berjalan menggunakan tongkat untuk menjaga keseimbangan tubuh. Setelah mampu
berjalan sendiri, ia mulai mencari pekerjaan sesuai dengan kemampuannya. Salimin kemudian bekerja di industri rumahan mebel untuk membuat meja kursi. Pernah
juga Salimin bekerja di industri rumahan itu hingga ke daerah Tegal. Namun, saat bekerja di Tegal anak-anaknya tidak rela karena kondisi kakinya yang tidak normal.

"Anak perempuan saya sering menangis, bahkan sampai sakit karena tidak tega saya berkerja jauh dari rumah. Akhirnya, saya keluar dari pekerjaan di mebel," katanya.

Ia kembali mencari pekerjaan lain yang tidak jauh dari rumah. Akhirnya ia memilih bekerja sebagai pembuat peti telur milik orang lain. Sudah enam tahun ia menekuni pekerjaan itu.

Hampir setiap pagi dan sore ia selalu diantar dan dijemput oleh anak keempatnya yang kini masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Dari peristiwa yang dilewati mulai dari masa pengobatan sampai kesulitan ekonomi keluarga, ia menegaskan bahwa cacat permanen yang dideritanya tidak mengurangi motivasi untuk beraktivitas dan bekerja untuk keluarga. 

Prinsipnya optimis dan berdoa, selanjutnya hasil Tuhan yang menentukan. "Saya orangnya tidak suka menganggur, jadi saya terus berusaha mencari kesibukan sesuai kemampuan," katanya. 

Tidak semua penderes yang cacat permanen akibat terjatuh dari pohon kelapa dapat bekerja seperti sediakala. Mustorih (55), warga lain di Desa Rancamaya tidak bisa bekerja lagi setelah jatuh pada 15 tahun lalu. 

Ia jatuh dengan posisi duduk, kaki kanan yang menjadi tumpuan awal sehingga menyebabkan patah tulang. Kala itu ia dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat
perawatan karena harus menjalani operasi.    

Istri Mustorih, Nasilem (50), menuturkan, selama proses penyembuhan, pihak keluarga telah menghabiskan biaya sekitar sepuluhan juta rupiah untuk biaya operasi dan perawatan lanjutan pascajatuh. Keluarga Mustorih tidak mendapat bantuan.

Ujung Tombak Industri Kelapa

Penderes merupakan pekerjaan yang menjadi ujung tombak di agroindustri gula kelapa. Ia setiap hari pagi dan sore harus memanjat pohon kelapa untuk menyadap nira.
Sebelum proses penyadapan, penderes harus menyayat bunga kelapa dengan sayatan baru agar nira keluar. 

Di Kabupaten Banyumas, warga yang bermata pencaharian sebagai penderes atau petani gula jumlahnya banyak. Data di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) 2015, mencatat jumlah penderes mencapai 26.282 orang. Jumlah penderes ini berkurang daripada data di 2014 yang tercatat 27.112 penderes. 

Menurut Kasubag Sosial Kesehatan dan KB pada Bagian Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) Setda Kabupaten Banyumas, Tasroh, risiko kecelakaan penderes gula kelapa tinggi, terutama ketika memasuki musim hujan. Terlebih lagi mereka tidak memakai alat pengaman. 

"Pada musim hujan tidak sedikit penderes yang jatuh dari pohon kelapa. Diantara mereka ada yang meninggal maupun luka-luka," katanya.

Risiko pekerjaan tersebut mendapat perhatian dari pemerintah kabupaten dengan menerbitkan Peraturan Bupati Banyumas No 4 Tahun 2009 tentang Santunan Kecalakaan
Kepada Penderes Gula Kelapa di Kabupaten Banyumas. 

Dalam Perbup itu, besaran santunan untuk penderes yang mengalami kecelakaan kerja meninggal dunia Rp 5.000.000, sedangkan cacat atau hilangnya kemampuan penderes
dalam menjalankan pekerjaannya diberikan santunan Rp 2.500.000.

Perbup itu kemudian mengalami perubahan. Besaran santunan yang diberikan naik. Saat ini, santunan untuk meninggal dunia Rp 5.000.000 dan luka-luka (cacat) diberi
santunan Rp 10.000.000.

Di tahun ini sampai dengan Oktober, Pemerintah Kabupaten Banyumas telah menyalurkan santunan sekitar Rp 1,05 miliar untuk 21 penderes meninggal dunia dan 90 penderes luka-luka. Sedangkan pada 2016 telah memberikan santunan sekitar Rp 1,5 miliar. Perinciannya penderes meninggal dunia 33 orang, sedangkan luka-luka 136 orang.

Pada 2018, Pemerintah Kabupaten Banyumas mengalokasikan anggaran Rp 1,2 miliar untuk bantuan sosial bagi penderes. Bantuan tersebut diberikan bagi penderes yang
mengalami kecelakaan kerja, terutama bagi pemegang kartu penderes. 

Program kartu penderes di Banyumas diluncurkan pada 2014. Pada awal diluncurkan penerima kartu penderes sebanyak 9.000 kartu. Jumlah penerima kartu penderes dari tahun ke tahun meningkat. Sampai saat ini, pemerintah kabupaten telah menerbitkan kartu penderes sebanyak 26.585 kartu.

Selain meluncurkan kartu penderes, kebijakan pemerintah daerah menekan angka kecelakaan kerja dengan meluncurkan program kelapa genjah entok. Pada 2013 sebanyak
16.500 batang kelapa genjah entok untuk 23 kelompok tani, kemudian 2014 dikembangkan lagi menjadi 85.000 batang untuk 85 kelompok tani. 

Dengan pengembangan ini pada 2017 akan mencapai 500.000 batang. Pohon kelapa genjah entok dikembangkan di Banyumas karena merupakan kelapa unggul lokal. Upaya lainnya, telah memfasilitasi pemakaian alat pengaman bagi para penderes. Ada tiga jenis alat pengaman, salah satunya sabuk pengaman untuk memanjat pohon. 

"Tetapi para penderes tidak mau memakai alat itu dengan alasan ribet," ujar Tasroh.

Regenerasi Penderes Terancam

Tingginya risiko kecelakaan kerja pada para penderes dapat mengancam regenerasi penderes. Masyarakat terutama generasi muda mulai tidak tertarik bekerja menjadi
penderes.  

Padahal, gula kelapa merupakan salah satu produk unggulan di Kabupaten Banyumas dan sebagai kompetensi inti daerah kementerian perindustrian 2013. Volume produksi gula kelapa di Kota Satria ini juga terbesar di antara daerah lain di Jawa Tengah.

Jumlah industri rumahan gula kelapa 31.521 unit usaha dengan kapasitas produksi 87.569,2 ton. Kecamatan Cilongok merupakan kecamatan penghasil gula kelapa terbesar di Banyumas dengan kapasitas produksi 45.234 kilogram per hari. 

Petani gula kelapa Desa Kasegeran, Kecamatan Cilongok, Anwar, menuturkan, tingginya risiko kerja membuat generasi muda di wilayah sentra gula kelapa Banyumas tidak tertarik menjadi petani gula. Mereka cenderung lebih memilih menjadi buruh di perusahaan swasta karena hasilnya dinilai lebih menjanjikan.   

"Risikonya besar. Kalau jatuh dari pohon kelapa pilihannya dua, yaitu cacat dan meninggal dunia," tuturnya.

Petani gula lain di Desa Pageraji, Ratun (58) menambahkan, ketidaktertarikan generasi muda karena proses pembuatan gula, mulai dari mengambil nira hingga memasak
membutuhkan waktu lebih kurang enam jam. Ini pun tidak dapat dikerjakan sendiri, tapi harus melibatkan orang lain (isteri) untuk memasak nira menjadi gula kelapa.

"Anak saya juga memilih bekerja di pabrik kayu daripada menjadi petani gula kelapa," katanya.

Selain risiko kecelakaan kerja tinggi, alasan minat generasi muda menjadi penderes rendah karena penghasilannya kecil, terutama bagi mereka yang tidak memiliki pohon kelapa. Petani gula kategori ini hanya menderes pohon milik orang lain dengan sistem bagi hasil. Bagi hasil yang diberikan, lima hari produksi untuk pemilik pohon dan lima hari produksi untuk penderes. 

"Kami setiap manisan (hari pasaran Jawa) memproduksi 15 kilogram. Tapi terkadang hasilnya bisa bertambah kalau nira kelapa sedang keluar banyak," kata Ratun.  

Harga gula kelapa cetak milik petani ditentukan oleh tengkulak. Petani gula tidak memiliki nilai tawar karena tidak mengetahui informasi pasar. Mayoritas petani gula menjual produknya langsung ke tengkulak karena sudah terjadi kesepakatan sebelumnya.

Bentuk kesepakatan yang dijalin dengan sistem ijon. Petani gula sebelumnya mendapatkan pinjaman keuangan dari para tengkulak. Pinjaman yang diberikan bukan hanya untuk keperluan mengembangkan usaha gula kelapa, tetapi sebagian besar digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan keluarga, seperti biaya sekolah anak, hajatan, pengobatan dan renovasi rumah. 

Tengkulak tidak menetapkan bunga kepada petani gula dan tidak meminta agunan atas uang yang dipinjamkan, tetapi mereka yang telah memperoleh pinjaman berkewajiban menyetorkan gula kelapa hasil produksinya kepada tengkulak dengan harga yang ditetapkan tengkulak. 

Petani gula kelapa Desa Pegeraji, Wasiyah (55), menuturkan, besaran pinjaman dari tengkulak dilihat dari besaran volume produksi. Apabila produksi setiap hari pasaran hanya berkisar 20 kilogram, biasanya maksimal hanya mendapat pinjaman sekitar Rp 1.000.000, namun apabila volumenya mencapai 50 kilogram dapat mengakses pinjaman hingga Rp 5.000.000. 

Bagi para petani yang memiliki tanggungan pinjaman, harga gula yang dijual ke tengkulak lebih rendah daripada petani yang tidak memiliki pinjaman. Ini sebagai kompensasi atas risiko penyaluran pinjaman kepada petani tanpa adanya agunan. 

"Selisih harga jual Rp 500 per kilogram. Misalkan gula di tingkat petani dihargai Rp 9.500 per kilogram, berarti gula milik petani yang memiliki pinjaman dihargai Rp 9.000 per kilogram. Tapi kami tetap menerimanya," kata Wasiyah.

Pedagang gula kelapa di Kecamatan Cilongok, Sani Arkan (30), menuturkan kemitraan yang terjalin antara tengkulak dengan petani gula sudah berlangsung lama. Mekanisme pinjaman yang diberikan longgar, karena hanya menilai karakter orang dari lingkungan sekitar, rajin mengangsur dan rutin memproduksi gula.

"Kami memberikan pinjaman mulai dari Rp 500.000 hingga Rp 3.000.000, tapi kebanyakan petani meminjam Rp 1.500.000," tuturnya.

Selama memberikan pinjaman tidak semua berjalan mulus. Sani mengaku pernah mengalami kemacetan pengembalian pinjaman sekitar Rp 20.000.000. Besaran itu menjadi kerugian usaha yang harus ditanggung sendiri. Biasanya, angsuran macet karena petani tidak hanya memiliki pinjaman di satu tempat, namun dua tempat serta memiliki hutang dari pihak lain.  

Saat ini ia menjalin kemitraan dengan 150 petani gula dan 15 ranting (pengumpul gula kapasitas kecil) yang rutin memasok gula setiap dua hari sekali. Setiap dua hari sekali, ia mampu menampung 1,5 ton gula kelapa. Gula tersebut kemudian diambil oleh tengkulak besar yang memiliki akses pasar langsung ke industri pengolahan makanan. 

"Paling tidak enak adalah pengepul yang berada di tengah-tengah, karena kami harus meminjami petani gula, kemudian hasil penjualannya dibayar secara tempo oleh
suplier," kata Sani.

Rantai Distribusi Panjang
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Suliyanto, mengatakan, saluran pemasaran gula kelapa dari petani ke tengkulak masuk dalam kategori saluran distribusi panjang. 

Pedagang pengumpul gula terbagi menjadi dua, yaitu tengkulak kecil dan besar. Tengkulak kecil biasanya lokasinya berada di desa dekat dengan para petani dengan kemampuan permodalan dan askes pasar yang dimiliki masih terbatas. 

Sedangkan tengkulak besar, di samping menampung gula dari tengkulak kecil juga menampung gula langsung dari para petani. Tengkulak besar memiliki kemampuan
permodalan yang lebih besar dan akses pasar yang lebih luas.  

Gula yang sudah ada di tangan tengkulak besar ini dipasarkan ke beberapa pasar industri, terutama industri pengolahan makanan seperti industri kecap, industri mi
dan industri makanan lainnya serta konsumen akhir. 

Suliyanto mengatakan, dampak dari rantai distribusi panjang menyebabkan harga gula kelapa relatif mahal di tangan konsumen akhir. Mahalnya gula kelapa di tingkat
konsumen akhir ini seringkali tidak dinikmati oleh para petani gula, tetapi lebih banyak dinikmati oleh tengkulak. 

Hasil identifikasi pada diskusi kelompok terarah yang dilakukan Suliyanto bersama tim Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Unsoed Purwokerto dengan pengusaha UMKM gula
kelapa untuk mengurai permasalahan pemasaran gula kelapa, dirumuskan model pembiayaan bagi UMKM gula Kelapa di Banyumas adalah Bank Gula Kelapa.  

Model ini dapat diterapkan di seluruh Indonesia karena pada umumnya pengusaha UMKM gula kelapa menghadapi permasalahan permodalan yang sama. Desain model pembiyaan UMKM gula kelapa meliputi, pengusaha UMKM gula kelapa menjual gula kelapa kepada bank gula kelapa, sepuluh persen dari penjualan diambil untuk simpanan di bank gula kelapa. 

Sebagai jasa atas dana yang disimpan, bank gula kelapa membayar bunga simpanan kepada UMKM gula kelapa, serta memberikan bantuan penyuluhan, pelatihan, pendampingan dan asuransi, serta menyalurkan bantuan permodalan UMKM gula kelapa.

Bank gula juga menjual gula dari pengusaha UMKM gula kelapa ke pasar modern, ekspor, maupun pasar tradisional. Dana yang terkumpul di bank gula kelapa disimpan dibank umum, dan bank gula kelapa mendapatkan bunga simpanan dari bank umum.

Dengan model pembiyaan ini, maka akan mempermudah pengusaha UMKM gula kelapa untuk mendapatkan pembiyaan dan melepaskan ketergantungan sistem ijon dari para tengkulak. 

Budaya Gotong Royong

Meskipun demikian, solusi tersebut belum diterapkan oleh petani gula maupun pengusaha UMKM gula kelapa. Persoalan pemasaran masih membelenggu para petani gula
hingga sekarang. Bahkan, mayoritas petani terkesan nyaman dengan sistem ijon, meskipun tidak sedikit pula petani yang ingin keluar dari lingkaran jerat tengkulak
dan ingin mandiri.

Bagi minoritas petani gula yang ingin mandiri, kemudian membentuk kelompok dan wadah koperasi dengan melestarikan budaya gotong royong sebagai kekuatan untuk
mengentaskan ketergantungan tengkulak. 

Ada dua komunitas gula kelapa di Banyumas yang terbilang maju dalam memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan petani, yaitu Koperasi Nira Satria dan Kelompok Gula Semut Manggar Jaya Desa Semedo, Pekuncen.

Sebelum membentuk Koperasi Nira Satria, para petani gula ini mendapat program pendampingan dan pelatihan dariNon Goverment Organization

(NGO), mulai peningkatan kualitas produk dengan cara meninggalkan campuran bahan kimia (natrium bisulfit), produksi gula kelapa serbuk atau gula semut, program sertifikasi organik, santunan kecelakaan hingga penyediaan akses pasar. 

Saat ini Koperasi Nira Satria telah mandiri. Koperasi itu memiliki anggota yang tersebar di Kecamatan Cilongok, Karanglewas, Gumelar dan Somagede. Koperasi ini
dibangun atas keperhatinan nasib para petani gula kelapa yang tidak memiliki posisi tawar harga produk.

Konsep koperasi yang dibangun dengan kemitraan untuk menjembatani pemasaran produk dari petani gula kelapa dengan mengedepankan azas keadilan. Koperasi juga melakukan pengelolaan asuransi komunitas untuk memberikan perlindungan ketika mereka mengalami kecelakaan kerja.

Peran koperasi dalam proses pemasaran gula kelapa semut diantaranya dengan membangun basis produksi melalui sistem pengendalian mutu internal, mengembangkan produk yang sehat dan ramah lingkungan serta telah tersertifikasi organik oleh lembaga sertifikasi internasional.

Data di Koperasi Nira Satria menyebutkan, kapasitas per bulan berkisar antara 60 sampai 70 ton. Gula semut tersebut sebelumnya di ekspor ke Eropa, Belanda, Jerman dan Amerika Serikat melalui pengekspor.

Selain pasar ekspor, pengurus koperasi juga membidik peluang pasar domestik dengan memasarkan produk yang dikemas dengan ukuran 250 gram, 500 gram hingga  satu
kilogram, serta membuat produk turunan gula semut untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Ketua Koperasi Nira Satria Banyumas, Nartam Andrea Nusa, menuturkan, saat ini koperasi telah mampu mengekspor produknya secara mandiri. "Kami sudah memiliki
dokumen ekspor sendiri dan telah melakukan ekspor perdana ke Australia, Afrika Selatan dan Mexico dengan kapasitas ekspor 20 ton gula semut," katanya.

Hal serupa juga dilakukan oleh Kelompok Gula Semut Manggar Jaya Desa Semedo. Proses pendampingan dilakukan mulai dari pelatihan membuat gula semut hingga pemasaran. Namun, perbedaannya kelompok itu berjalan mandiri tanpa campur tangan dari NGO.

Ketua Kelompok Gula Semut Manggar Jaya Desa Semedo, Akhmad Sobirin, mengatakan, kelompok menjadi salah satu sarana untuk melepas ketergantungan tengkulak, disamping untuk tukar pikiran dan diskusi antarpetani gula kelapa. 

Di kelompok itu kini memiliki anggota 138 petani gula. Kapasitas produksi gula semut di Kelompok Manggar Jaya dalam sebulan mencapai 20 ton. Harga gula semut di tingkat petani saat ini Rp 14.000 per kilogram atau lebih tinggi Rp 5.000 per kilogram dari gula kelapa cetak.

Hasil produksi itu 98 persen dipasarkan ke mancanegara, seperti negara-negara Eropa, India dan Amerika Serikat melalui pengekspor, sedangkan 2 persen dipasarkan ke toko ritel. Gula semut yang dipasarkan ke toko ritel dikemas menarik menggunakan merek "Semedo Manise" dengan ukuran mulai dari 100 gram, 250 gram dan 500 gram.

Keuntungan penjualan gula milik petani dipotong Rp 200 per kilogram untuk kelompok. Uang tersebut sebagai dana sosial yang dimanfaatkan untuk membayar iuran program jaminan kecelakaan kerja dan kematian di BPJS Ketenagakerjaan, serta membantu anggota kelompok yang sedang sakit. 

Sekarang usaha kelompok sudah berjalan lancar. Petani juga memiliki nilai tawar dan telah menggusur praktik sistem ijon, serta monopoli harga dari tengkulak yang
cenderung merugikan petani. 

Bahkan, melalui kelompok para petani gula mampu mengakses modal usaha dari lembaga keuangan formal melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Saat ini kelompok mampu mengakses pinjaman sebesar Rp 500 juta dan masing-masing anggota dapat meminjam modal maksimal Rp 25 juta tanpa agunan.     

"Sekarang para petani gula sudah bebas dari tengkulak dan mandiri. Pendapatan mereka meningkat. Angsuran pinjaman bank juga lancar tidak ada petani yang menunggak," ujar Sobirin.

Keberhasilan dua komunitas itu memperlihatkan bahwa petani gula kelapa Banyumas dapat bangkit dan lepas dari belenggu tengkulak. Namun, keberhasilan itu belum
diikuti oleh mayoritas petani Banyumas. Sampai petani gula tidak mampu mengubah pola pikir, mereka tetap akan terjebak dalam pusaran tengkulak.

(Puji Purwanto /SMNetwork /CN34 )