image

foto: Istimewa

14 Januari 2018 | 00:33 WIB | Nasional

Dipertanyakan Laba Impor Beras 500 Ribu Ton 

JAKARTA, suaramerdeka.com- Impor beras sebanyak 500.000 ton terus nenuai pertanyaan. Apalagi dilakukan saat stok tercukupi. Partai Gerindra pun mempertanyakan hasilnya untuk apa.

Wakil Ketua DPP Partai Gerindra Arief Poyuono mempertantakan   kenapa Menteri Perdagangan Enggartyasto Lukita ngotot impor beras.

''Katanya tidak mau ambil risiko kekurangan pasokan. Artinya jika selama ini harga beras tetap tinggi di pasar yang dibeli masyarakat bukan karena kurang pasokan,''ujar dia, Sabtu (13/1).

Dia menduga karena ada mafia impor beras disekitar kekuasaan pemerintahan yang menanggok untung besar dari impor beras tadi .

Dia juga mempertanyakan alasan Menteri Perdagangan import beras. ''Apa iya masuk akal. Contoh saja 500 ribu ton dengan mengunakan  harga beras di negara Asia Tenggara lain yang berada di lembah Mekong seperti Thailand yakni 0,33 dolar AS/kg, Myanmar  0,28 dolar AS/kg, Kamboja 0,42dolar AS/kg.

''Sementara harga rata-rata beras di Indonesia yakni US$ 0,79 atau Rp 10.499. Pada tahun lalu, sebagaimana dirilis FAO,''ungkap Ketua Umum Federasi Serikat Perkerja BUMN Mandiri ini.

Artinya importir beras setelah dikurangi ongkos angkut ke Indonesia bisa untung sebesar Rp 3.000/Kg itu sudah termasuk biaya pengiriman dan distribusi di dalam negeri,''turur Arief.

''Nah jika dikalikan 500 ribu ton x 1.000X3000, maka dihasilkan untung Rp 1.5 triliun,'' 

Padahal, lanjut dia, Presiden Joko Widodoi (Jokowi) menargetkan paling lama tiga tahun ke depan atau pada akhir tahun 2017 Indonesia telah swasembada beras. Untuk itu, Menteri Pertanian diberi waktu tiga tahun mewujudkan target tersebut.

''Selama hampir tiga tahun impor beras dan walau harga beras mutu rendah masih di atas Rp 10 ribu di pasar tradisional.''

''Janji Joko Widodo pada masyarakat untuk tidak impor beras mulai akhir 2017, ternyata Akhir Januari 2018 ini pemerintah akan mengimpor beras sebanyak 500 ribu Ton  Padahal bulan ini hingga Februari merupakan musim panen.''

Ada persoalan gagalnya swasembada pangan yang dijanjikan pemerintahan Joko Widodo dengan target akan swasembada pada akhir tahun 2017 ,

Dikatakan, janji untuk swasembada pangan dalam komoditas beras tidak dibarengi dengan pembangunan infrastruktur, sarana dan prasarana serta teknologi pertanian yang memungkinkan untuk meningkat produksi padi Indonesai.

(A Adib /SMNetwork /CN34 )

NEWS TERKINI