image

Foto: Istimewa

14 Februari 2018 | 06:15 WIB | Suara Kedu

Tekan Kekerasan Perempuan Lewat Three Ends 

SLEMAN, suaramerdeka.com- Angka korban kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Sleman terbilang tinggi. Pada tahun 2017 tercatat ada 471 kasus kekerasan dengan rincian 175 kasus menimpa anak, dan 296 korban dari kalangan usia dewasa.

Sebagai salah satu upaya menekan jumlah kasus kekerasan tersebut, Dinas P3AP2KB Sleman menggencarkan sosialisasi Three Ends. Kampanye ini mencakup gerakan mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, mengakhiri perdagangan manusia, serta mengakhiri kesenjangan ekonomi bagi perempuan plus mengakhiri ketertinggalan perempuan dalam politik.

"Kami terus menyosialisasikan three ends baik kepada masyarakat secara langsung, maupun lewat PKK atau pemerintah di tingkat kabupaten hingga desa, serta di sekolah-sekolah," kata Kepala Dinas P3AP2KB Sleman Mafilindati Nuraini, Selasa (13/2).

Menurut Linda, dari data yang dihimpun, kasus kekerasan terbanyak terjadi di Kecamatan Ngaglik yakni 58 kasus disusul Tempel sejumlah 54 kasus, Depok 44 kasus, Godean 42 kasus, dan Mlati 39 kasus. Adapun langkah sosialisasi yang dilakukan antara lain lewat pembagian leaflet dan booklet, serta melalui sarana baliho, dan multimedia. 

Untuk tahun ini, sosialisasi ditambah dengan mengadakan lomba senam three ends yang akan dilaksanakan bulan Maret mendatang dengan peserta perwakilan dari 17 kecamatan. Disamping sosialisasi, imbuh Linda, dinasnya juga telah membentuk layanan pusat pembelajaran keluarga (puspaga). Layanan ini didukung 2 tenaga psikolog yang siaga pada jam kerja di dinas P3AP2KB. 

"Puspaga ini bertugas memberikan konseling bagi keluarga sebagai upaya preventif agar tidak terjadi tindak kekerasan," katanya.

Untuk penanganan apabila terjadi kekerasan terhadap perempuan dan anak telah difungsikan kader PKDRT di tingkat kecamatan. Kader ini didukung lintas sektor seperti Foras, UPT Yandik kecamatan, Babinkamtibmas, KUA, dan puskesmas.

Langkah penanganannya yakni dengan melakukan mediasi di tingkat kecamatan. Jika tidak membuahkan hasil maka akan dilanjutkan di UPT P2TP2. Pihaknya berharap ada peran serta masyarakat dalam mendukung upaya penurunan angka kekerasan ini yakni dengan melapor ke aparat terdekat, serta menjaga keharmonisan rumah tangga masing-masing.

(Amelia Hapsari /SMNetwork /CN39 )