image

Foto Istimewa

14 Februari 2018 | 12:11 WIB | Ekonomi dan Bisnis

Perluasan Lahan Pertanian Bawang Putih Sulit

JAKARTA, suaramerdeka.com– Indonesia belum berhasil swasembada komoditas bawang putih sehingga importasi terus dilakukan. Bawang putih ditargetkan bisa swasembada dalam dua tahun ke depan, namun hal ini sulit dilakukan karena terbatasnya lahan tanam komoditas tersebut.

Ketua Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (PATAKA) Yeka Hendra Fatika menilai mustahil berharap swasembada dalam dua tahun ke depan.

Menurutnya, bawang putih bukan jenis tanaman yang bisa cukup masif ditanam di negara tropis seperti Indonesia. Beberapa daerah memang cocok untuk dijadikan sentra bawang putih, contohnya di Lombok Timur-NTB, Temanggung-Jawa Tengah, Magelang-Jawa Tengah, dan di Sumatra Barat.  

Sayangnya, di daerah-daerah tersebut penggunaan lahan bawah putih sudah mendekati maksimal. Akibatnya, cukup sulit melakukan perluasan di kawasan-kawasan tersebut.
“Kita perlu penambahan sekitar 50 ribu hektare lah. Nah, sekarang pertanyaannya, lahan yang dipakai itu lahan apa? Lahan yang mana?” katanya, Selasa (13/2).

Dia menilai kesulitan melepas ketergantungan impor bawang putih karena ketiadaan pilihan. Lahan penanaman yang tidak bertumbuh signifikan menjadi salah satu penyebab utama produksi tak bisa menutupi kebutuhan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), luas lahan pertanian bawang putih di 2016 hanya mencapai 2.407 hektare. Angka ini bahkan menurun 6,09% dibandingkan lahan bawang putih yang tercatat seluas 2.563 hektare pada 2015. Kementerian Pertanian sendiri telah mengusahakan pertambahan luas lahan pertanian bawang putih lewat aturan wajib tanam buat importir, tapi jumlahnya dinilai tidak signifikan. Dengan tingkat ketergantungan pasokan sedemikian besar, 

Masih berdasarkan data yang sama, kebutuhan akan bawang putih ini pun dari tahun 2013—2017 diketahui terus bertumbuh. Rata-rata mencapai 8,78% per tahun. 

Dengan luasan lahan yang ada saat ini, produksi bawang putih lokal hanya berada di angka 21,15 ribu ton pada 2016. Angka ini jauh di bawah kebutuhan konsumsi nasional yang berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan) rata-rata mencapai 1,63 kilogram per kapita tiap tahun.

Bila dirinca, dengan 250 juta jiwa, dibutuhkan minimal 407,5 ribu ton bawang putih guna memenuhi kebutuhan tersebut. Itu pun baru untuk konsumsi rumah tangga, belum termasuk kebutuhan untuk industri komersial.

Karena hal itulah, mayoritas kebutuhannya harus dipenuhi melalui pasokan impor. Dengan demikian, kondisi ketersediaan dan harga di dalam negeri masih sangat tergantung pada kondisi pasokan dan tingkat harga di negara produsen.

“Impor bawang putih Indonesia berasal dari China, India, Amerika, Swiss, dan Malaysia dengan share utama 99,25?ri China dan India 0,65%,” kata Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Tjahja Widayanti, Selasa (13/2). 

Ia pun mengakui, pasokan bawang putih lokal di pasaran masih jauh di bawah kebutuhan konsumsi nasional yang sebanyak 480 ribu ton.

Pakar pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas berpendapat akan sangat sulit saat ini untuk menghapus impor, apalagi mencapai swasembada bawang putih. 

Meskipun pada pertengahan Juni 2017 Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyatakan akan menambah lahan seluas 60 ribu hektare untuk komoditas ini, menurut Dwi, hal tersebut sepertinya sulit diwujudkan.

Tak Bisa Sembarang Tempat

Dia menjelaskan sekalipun lahan pertanian disiapkan, bawang putih tidak bisa ditanam di sembarang tempat. Bawang putih perlu ditanam di lahan yang berada minimal di atas 700 meter di atas permukaan laut. Untuk lahan dengan ketinggian demikian, kata Dwi, jarang ada yang masih kosong saat ini.

“Paling bagus di atas 1.000 meter untuk budi daya bawang putih. Nah, sekarang silakan cari. Menteri Pertanian yang katanya 60 ribu hektare di lahan-lahan ketinggian di atas 700 yang nanti bisa digunakan untuk bawang putih, silakan cari,” tantangnya.

Hal senada diungkapkan Kepala Subdirektorat Statistik Impor Badan Pusat Statistik Rina Dwi Sulastri. Dia mengatakan, bawang putih merupakan tanaman subtropis yang tidak sesuai dengan iklim yang dimiliki Indonesia. Karena itu, ia menilai kebijakan pemerintah untuk mengimpor bawang putih sudah merupakan keputusan yang tepat.
"Kita negara tropis Jadi hampir semua kebutuhannya itu impor. Bawang putih itu kalo saya lihat impor di Januari hingga Desember 2016 itu 441,2 ribu ton. Sementara 2017, kita impor 547,5 ribu ton,” ucapnya.

Rina mengaku, tidak pernah tahu menahu tentang adanya pertanian untuk bawang putih di Indonesia. “Saya sih ga pernah nemu ya, yang saya temu bawang merah, iya. Kalo bawang putih saya gapernah temu,” serunya.
Dwi Andreas mengungkapkan, ketinggian 700-1.000 meter di atas permukaan laut memang menjadi “daerah kekuasaan” hortikultura, tidak hanya bawang putih. Karena itulah, ketika pemerintah menargetkan menambah 60 ribu lahan bawang putih, pengamat ini amat pesimistis hal tersebut bisa tercapai.

“Di ketinggian itu budi daya hortikultura yang menguntungkan sehingga orang rebutan lahan,” ucapnya.

Selain itu, tidak mudah pula mengubah kebiasaan tanam para petani untuk menanam bawang putih. Apalagi, biaya tanam komoditas ini tergolong tinggi, memerlukan modal setidaknya Rp60 juta per hektare.

Untuk diketahui, berdasarkan data Kementan, total luasan lahan hortikultura untuk sayur mayur pada 2016 tercatat seluas 608,34 ribu hektare. Lahan tersebut didominasi lahan untuk bawang merah seluas 149,64 ribu hectare, kemudian disusul lahan cabai rawit seluas 136,82 ribu hectare. Sementara luasan lahan bawang putih yang mencapai 2.407 hektare hanya sebesar 0,4?ri keseluruhan lahan hortikultura. 

(Kartika Runiasari /SMNetwork /CN19 )