image

TELITI BATU LINGGA: Peneliti Arkeologi Nasional (Arkenas) Agus Sianto Indra Jaya bersama Veronique Blood dari EFEO meneliti keberadaan batu lingga di Candi Pangkuan, Desa Cilibur, Kecamatan Paguyangan, Brebes. (suaramerdeka.com/Teguh Inpras)

16 April 2018 | 23:48 WIB | Suara Pantura

Peneliti Prancis Tertarik Lingga Candi Pangkuan

BREBES, suaramerdeka.com- École française d'Extrême-Orient (EFEO), sebuah lembaga penelitian Prancis khusus kajian kebudayaan di Asia dan Peneliti Arkeologi Nasional (Arkenas) Indra, Minggu (15/4) kemarin, meneliti benda bersejarah yang diduga peninggalan Hindu-Buddha di Kabupaten Brebes bagian selatan.

Kedua lembaga itu didampingi oleh Tim Buton (Pelestari Fosil dan Benda Purbakala Bumiayu-Tonjong), mendatangi sejumlah lokasi, di antaranya Batu Belah di Desa Kalierang, Watu Jaran di Desa Laren, Bata Wali di Desa Jatisawit Kecamatan Bumiayu dan Batu Lingga di Candi Pangkuan, Desa Cilibur Kecamatan Paguyangan.

Peneliti Arkenas, Agus Sianto, dan peneliti Prancis, Veronica Blood, mengemukakan sebelum melakukan penelitian di Bumiayu, pihaknya telah melakukan kajian referensi dari laporan Belanda dan Balai Arkeologi. ‘’Jadi beberapa lokasi yang kita datangi di Bumiayu ini ada dalam referensi tersebut,’’ kata Sianto.

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui awal masuknya agama Hindu dan Buddha ke Indonesia, terutama pulau Jawa bagian tengah.

Pasalnya, kata dia, selama ini Hindu-Buddha ada di pedalaman Pulau Jawa seperti di Yogyakarta dan sekitarnya. ’’Selama ini Hindu dan Buddha muncul di pedalaman Jawa, tetapi lupa bahwa itu berawal dari pantai utara (Pantura),’’ katanya.

Tertarik Batu Lingga

Dari sejumlah penelitian di Bumiayu tersebut, Agus bersama Veronique mengaku tertarik dengan batu lingga di Candi Pangkuan. ’’Batu Lingga itu cukup istimewa karena ukurannya yang besar. Perlu penelitian lebih lanjut,’’ ujar Agus.

Menurutnya, batu lingga merupakan perwujudan yang menggambarkan Tri Murti yakni Dewa Siwa, Dewa Wisnu dan Dewa Brehmana. Batu Lingga bagian atas berbentuk bundar tanpa sudut perwujudan dari Siwa, kemudian di tengah memiliki delapan sudut menggambarkan Wisnu dan bagian bawah empat sudut.

‘’Batu Lingga itu ada pada abad ke tujuh atau sebelumnya dan merupakan tempat upacara atau semacam peribadatan. Biasanya Lingga diletakkan di tengah dengan sekitarnya merupakan candi atau tempat pemujaan,’’ terang Agus.

Sementara Koordinator Tim Buton, Rafli Rizal menyatakan, kedatangan peneliti Arkenas dan EFEO  membuktikan Bumiayu memiliki potensi arkeologi. ’’Dari penelitian ini kita menjadi tahu bahwa Bumiayu sudah dikenal oleh para peneliti sejak zaman Belanda,’’ kata dia.

Pihaknya berharap penelitian tersebut semakin mengungkap kekayaan arkeologi di Bumiayu sehingga bisa menjadi sumber ilmu pengetahuan masyarakat terutama generasi muda.

(Teguh Inpras Tribowo /SMNetwork /CN40 )

NEWS TERKINI