image

SM/dok Puspen - TNI NGOPI DI UDARA: Panglima TNI Hadi Tjahjanto mengajak wartawan ngopi bareng di udara saat dalam perjalanan dari Lapangan Udara Halim Perdana Kusumah Jakarta, menuju Lanud Adi Soetjipto Yogyakarta. Panglima berpelukan usai menjamu Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan jajarannya di Ruang Hening, Mabes TNI, belum lama ini.(23)

23 Desember 2017 | Spektrum

Jatidiri Panglima dalam Secangkir Kopi

DI ANTARAdua bibir Marsekal Hadi Tjahjanto, kopi seolah menemukan jatidirinya dalam rasa yang berbeda. Beberapa hari setelah dilantik menjadi Panglima TNI, lelaki 54 tahun tersebut mengajak rombongan wartawan mengangkasa.

Selain berbincang sebagaimana relasi profesional antara narasumber dan wartawan, Hadi tampaknya lebih ingin ”memperkenalkan” diri lewat secangkir kopi Baringga, yang merupakan akronim dari Baret Jingga. Menyeruput kopi bersama dijadikannya sebagai sarana berdiplomasi dengan banyak pihak. Mulai dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian hingga keinginan mengundang Siti Sundari Daranila.

Siti adalah seorang perempuan berusia 51 tahun asal Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat yang kini ditahan Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri. Penyebabnya, dia diduga memfitnah istri Hadi dan keluarganya. ”Urusan nanti mau ngopi bareng setelah proses hukum ini selesai, jadi kita hargailah proses hukum ini yang sedang berjalan,” ungkapnya usai mengikuti upacara apel persiapan Operasi Lilin 2017 di Lapangan Silang Monas, Jakarta, Kamis (21/12).

Sejahterakan Prajurit

Selain sarana diplomasi, ngopi bareng yang dilakukan Hadi ternyata juga dimaksudkan untuk kesejahteraan prajurit. Pasalnya, kopi Baringga yang disajikan berasal dari kopi yang ditanam sendiri oleh prajurit Pasukan Khas (Paskhas) TNI AU di Bandung, Jawa Barat. Panglima TNI berharap kopi yang diseruput beramai-ramai itu bisa populer. ”Kalau kopinya populer dan disukai, maka hasil kepopuleran itu bisa untuk membangun perumahan prajurit,” paparnya.

Menurutnya, rumah adalah kebutuhan pokok prajurit. Jika para prajuritnya sudah memilki rumah, maka akan jauh lebih tenang dan profesional saat bertugas mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Khususnya, saat bertugas kemanapun dan meninggalkan anak dan istrinya dalam jangka waktu yang lama.

Gebrakan mantan Danlanud Adisumarmo Solo itu sebenarnya bukan yang pertama. Karena hal itu sudah dilakukannya sejak menjabat sebagai Kepala Staf TNI AU. Dan, kegiatan itu juga tidak berhenti di situ. Diplomasi dengan minuman, juga kudapan dan makanan berat, tentu saja bukan hal baru.

Barangkali marsekal bintang empat yang ramah senyum ini, terinspirasi gaya Presiden Jokowi. Sejak di Solo, kota saat kali pertama mereka menjadi dekat, nama Jokowi sohor di seluruh Indonesia setelah 54 kali menjamu ratusan pedagang kaki lima sebelum merelokasi mereka ke tempat berjualan anyar.

Dalam diplomasi panjang, menyenangkan dan mengenyangkan namun tetap alot tersebut, pada akhirnya berjalan sukses tanpa sedikitpun kekerasan. Kini dalam posisinya sebagai orang nomor satu di Indonesia, ia kerap kali mengundang para tamunya, tak peduli pendukung atau lawan politik, untuk mengoborol dan bersantap di Istana Kepresidenan. Bahkan beranda Istana menjadi saksi bisu bagaimana Jokowi sukses mengkrabkan diri sekaligus meredakan beberapa gejolak yang tengah terjadi.

Berbeda dengan Hadi, mantan Gubernur DKI Jakarta ini lebih senang menyeruput teh dibandingkan kopi. ”Ada tiga pilihan. Ngopi di darat, laut atau udara. Ini bisa dikatakan diplomasi kopi atau kita terbang dan ngobrol ringan,” cerita Hadi saat menawari Tito memilih tempat ngopi bareng berikutnya.(23)

Penulis :Saktia Andri Susilo dan Gading Persada
Penyunting :Dwi Ani Retnowulan

Berita Lainnya