13 Januari 2018 | Fokus Jateng

Kerugian Meterial Dampak Bencana Rp 49 Miliar

  • Selama Desember 2017

WONOSOBO- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonosobo mencatat, total kerugian dampak bencana alam di Kabupaten Wonosobo, khusus Desember 2017 mencapai Rp 49 miliar.

Berbagai kerusakan terjadi di sejumlah infrastruktur jalan, jembatan, serderan, sarana irigasi, hunian masyarakat, dan terganggunya perekonomian warga, imbas bencana tanah longsor, banjir bandang, angin puting beliung, dan gempa bumi.

Kepala Pelaksana BPBD Wonosobo, Prayitno menyebutkan, pihaknya masih merekap data kejadian bencana dan kerugian imbas bencana sepanjang 2017.

"Namun, catatan kami pada Desember saja kerugian material dampak bencana alam untuk infrastruktur jalan, jembatan, dan serderan total mencapai Rp 33 miliar.

Untuk hunian yang terdampak bencana di lima kecamatan ditaksir Rp 11 miliar," ungkapnya kepada Suara Merdeka seusai Apel Kedaruratan Bencana, kemarin.

Dampak sejumlah bencana alam yang menimpa wilayah Kabupaten Wonosobo juga berpengaruh besar terhadap terganggungnya kegiatan ekonomi produktif di kota dingin tersebut.

Pihaknya mencatat kerugian material imbas bencana alam pada sektor ekonomi produktif mencapai Rp 5 miliar. "Itu di samping infrastruktur pada capaian kerentanan yang terdapat di Desa Ngasinan, Kecamatan Kaliwiro, yakni jalan dan jembatan dengan kerugian Rp 6 miliar," katanya.

Beberapa tahun terakhir tanah di desa tersebut longsor cukup parah, yang menyebabkan permukiman penduduk di Dusun Monggor dan Dusun Serang terancam.

Akses jalan maupun jembatan di wilayah desa juga cukup parah, namun hingga saat ini belum tertangani. "Kami terus memberikan perhatian ketat untuk wilayah tersebut, karena tanah masih sangat labil dan rawan longsor," tutur dia.

Puncak Musim Hujan

Prayitno menjelaskan, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim hujan akan terjadi pada Januari hingga Februari. Intensitas hujan diprediksi cukup tinggi, lebat, dan dengan durasi cukup lama. "Curah hujan berkisar 400-500 milimeter per detik.

Kondisi ini menjadi ancaman serius yang perlu diwaspadai bersama. Karena itu, apel kesiapsiagaan banjir, longsor, dan angin puting beliung dipandang penting untuk dilakukan," ujarnya.

Untuk kebutuhan dua bulan ke depan di puncak musim, BPBD Wonosobo telah mendapat bantuan dana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebesar Rp 668.800.000.

Selain itu, terdapat bantuan Rp 250 juta untuk peristiwa darurat bencana di wilayah Kecamatan Wadaslintang dan Kecamatan Kalibawang, yang terjadi pada 2017.

Sementara itu, ada pula bantuan dari Gubernur Jawa Tengah sebesar Rp 70 juta untuk tujuh keluarga yang terdampak longsor pada 2017.Pada 2018 direncanakan akan kembali mendapat bantuan dari Gubernur untuk 18 keluarga terdampak bencana.

Prayitno juga mengemukakan, dana siap pakai Rp 668.800.000 yang diberikan pemerintah pusat akan dialokasikan untuk kebutuhan Pos Aju Kesiapsiagaan Bencana masing-masing kecamatan, pembelian logistik karung, peralatan dan atribut untuk sukarelawan. "Dana itu untuk kebutuhan dua bulan pada puncak musim hujan ini," ungkap dia.(mar-27)