image

SM/ M Alfi Makhsun - Heru Sembiring

03 Februari 2018 | Spektrum

Penumpang Perlu Lebih Paham Aturan

SEMARANG- Ribut-ribut mainan dari luar negeri yang wajib menyertakan sertifikat SNI diharapkan tak terjadi lagi. Selain regulasi yang jelas, masyarakat juga diminta lebih memahami barang apa yang diperbolehkan dan dilarang untuk dibawa ke Indonesia.

Terkait dengan itu, di Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang, setiap hari ada 10 petugas yang selalu siap melayani dan mengawasi. ''Selama ini biasanya jika dipantau sehari selalu ada ada saja yang melanggar. Jika ada barang yang lebih dari 500 dolar per orang kami kenakan bea masuk.

Lalu terkait barang barang yang dibatasi perlu diketahui masyarakat. Kami berpatokan kepada kewajaran dalam melakukan pengawasan,'' ungkap Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (PPBC) Tipe Madya Pabean Tanjung Mas, Heru Sembiring. Dia mencontohkan, rokok yang dibawa dari luar negeri hanya diperbolehkan maksimal 200 batang. Cerutu maksimal 25 batang, tembakau maksimal 100 gram, dan minuman keras beralkohol satu liter tiap orang.

Jika melampaui ketentuan itu, kelebihan barang akan diamankan. Dikatakan, penegakan aturan yang diberlakukan Direktorat Jendral Bea dan Cukai (DJBC) terkait mainan impor wajib SNI, terhitung mulai 23 Januari lalu. Namun aturan ini tak berlaku bagi misalnya mainan khusus dewasa seperti alat bantu seks atau yang sering disebut sex toys. Heru mengungkapkan, akan menyita mainan dewasa tersebut, jika kedapatan ada di barang bawaan penumpang.

Kategori barang tersebut sudah sejak lama dilarang untuk dibawa penumpang sejak sebelum Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 55/MIND/ PER/11/2013 diterapkan DJBC bulan lalu. ''Sex toys merupakan salah satu barang yang dilarang dalam peraturan seperti halnya senjata dan narkoba. Ini bukan termasuk dalam katagori mainan yang tertuang dalam pemberlakuan aturan baru dari DJBC.

Di bandara selama ini ada beberapa temuan dan langsung kami musnahkan. Namun terkait jumlah data temuan kami tidak ada data valid selama ini. Sebab semua ada di hanggar bea cukai,'' kata Heru. Terkait mainan anak tidak ber-SNI yang dibawa penumpang, dalam sepekan terakhir pihaknya menemukan kasus seperti itu. Menurut keterangan stafnya, didapatkan penumpang yang membawa mainan dari luar negeri, melebihi batas maksimal yang diperbolehkan. ''Ada laporan dari staf saya di lapangan terkait hal tersebut.

Tindakannya langsung kami tegah (larang) untuk keluar dari bandara. Namun kami tidak bisa menjelaskan secara detail mainan apa dan jumlahnya berapa. Semua temuan itu dan datanya langsung ke hanggar bea cukai,'' lanjut Heru.

Dalam peraturan yang diberlakukan DJBC tersebut juga ada pengecualian barang non-SNI yang diizinkan untuk dibawa. Heru menyebut ada tiga kategori. Yakni jika barang itu sebagai contoh uji permohonan untuk buat SNI. Lalu, mainan yang memiliki karakteristik penelitian dan pengembangan. Terakhir, mainan yang memiliki karakteristik untuk keperluan khusus.(65)

Penulis :Kartika Runiasari, M Alfi Makhsun, Dadang Aribowo
Grafis :Dadang Aribowo
Penyunting :Wahyu Wijayanto

Berita Lainnya