image
11 Februari 2018 | Arsitektur

Gedung Bank Indonesia Salah Satu Ikon Arsitektur

  • Oleh Nuky Krishna Rajasa*

GEDUNGBank Indonesia Semarang adalah bangunan pertama di kota Semarang yang mengaplikasikan Glass Reinforced Cement (GRC) expose sebagai penyelesaian akhir dari fasad bangunannya. Bangunan yang dirancang (oleh Arsitek Iman Sudibyo, IAI almarhum dan Tim), dan dibangun pada akhir dekade 80-an (1989-1990).

Bangunan yang berlokasi di Jalan Imam Bardjo, Semarang ini seakan menjadi tetenger kawasan tersebut, bersinergi dengan bangunan2 lainnya.

Pada era dekade 80-an tersebut di Jawa Tengah sedang gencar didengungkan konsep pembangunan ber-Wawasan Jatidiri, yang di antaranya mendorong agar dalam proses pembangunan, termasuk pembangunan fisik untuk memiliki konsep dan memunculkan identitas serta karakter lokal Jawa Tengah.

Sehingga pada era tersebut banyak ditemui bangunan dengan tampilan luar (terutama bentuk atap) mengadopsi arsitektur Rumah Joglo, meskipun tata ruang dalam bisa sama sekali berbeda dari asalnya.

Pada era yang demikian, nampak bahwa dalam strategi perancangan Gedung Bank Indonesia Semarang, dilakukan dengan pendekatan yang berbeda dalam upaya untuk memberi warna tradisional (tampilan dan aura), pada bangunan yang moderen (fungsi dan tatanan fisik).

Hal ini terlihat pada rancangan gubahan massa yang dari bleger (sosok) bangunannya memunculkan dengan kuat proporsi “Kepala-Badan-Kaki”. Tampilan massa yang mengingatkan pada proporsi bangunan-bangunan candi di Jawa.

Bangunan Bank Indonesia Semarang ini juga memiliki tampilan khas pada kulit muka bangunan yang membiarkan lapisan kulit bangunan, terbuat dari bahan GRC dan ditampilkan apa adanya tanpa lapisan finishing tambahan lain seperti cat atau bahan pelapis lainnya. Hasilnya adalah karakter rigid dan kokoh yang memperkuat sosok massa bangunan yang monolith, simetris dan menonjol, serta menegaskan citra institusi Bank Indonesia sebagai Bank Sentral.

Pengolahan muka/ fasad dengan bahan bangunan moderen yang diterapkan juga menyentuh pada area detil bangunan yang secara konsisten mengolah semua tampilan dengan karakter yang rigid, formal dan “dingin”.

Termasuk pada sentuhan disain pada komponen-komponen fungsional seperti konsol teritis/ atap, detil naungan matahari (sun shading) bahkan talang corong.

Pendekatan

Upaya menghadirkan sentuhan tradisional juga coba dihadirkan dengan olahan ornamen-ornamen pada sudut-sudut dinding maupun finishing komponen-komponen detil lainnya, semua konsisten menggunakan finishing GRC dipadukan dengan beton ekspose yang digerinda pada umpak kolom.

Pendekatan sosok monolith yang kuat bisa disejajarkan dengan pendekatan dengan bertitik berat pada konsep Master Form.

Pendekatan sosok bangunan yang menonjol dan monolith juga sejalan dengan ide dasar bahwa bangunan yang diwujudkan bukan hanya berangkat dari faktor ”guna” yang dibutuhkan, lebih dari itu bangunan juga dibuat dalam rangka memuaskan penghuninya akan segi-segi keindahan dan pesan-pesan sosio-kultural di dalamnya.

Dengan kata lain bangunan haruslah mempunyai ìjiwaî dan jiwa terwujudkan dalam bentuk ìcitraî. (Mangunwijaya, 1988 : 52).

Spot unik bagi warga kota Semarang dan masyarakat, antara lain area pusat kota Simpanglima dan sekitarnya dan ruas Jalan Imam Bardjo yang bersimpul di titik Air Mancur dan Gedung Bank Indonesia Semarang.

Gedung yang menjadi salah satu unggulan Aga Khan Award for Architecture 1990-1992. Serta dinugerahi Penghargaan Arsitektur IAI Jawa Tengah pada penghujung dasawarsa 90-an.(63)

— Nuky Krishna Rajasa|Arsitek; Wakil Ketua Bidang Pengabdian Profesi IAI Daerah Jawa Tengah

Berita Lainnya