14 Februari 2018 | Wacana

TAJUK RENCANA

Mari Menjadi Bangsa yang Apresiatif

Menteri Keuangan Sri Mulyani dinobatkan sebagai menteri keuangan terbaik di dunia dalam acara World Government Summit di Dubai, Uni Emirat Arab, pada Senin (12/2). Predikat menteri terbaik merupakan penghargaan global yang diberikan kepada satu menteri dari seluruh negara di dunia setiap tahunnya. Penghargaan itu tentu layak disambut dengan apresiasi positif. Apalagi, penghargaan itu diberikan oleh lembaga yang sudah diakui integritasnya.

Proses seleksi dalam menentukan predikat menteri terbaik juga terbukti serius. Penilaian dilakukan oleh lembaga independen Ernst & Young. Siapa tidak mengenal integritas dan profesionalitas lembaga itu? Erns & Young tentu tidak akan mengorbankan reputasinya dengan melaksanakan penilaian yang asal-asalan. Sikap apresiatif atas pengakuan dunia terhadap pencapaian salah satu menteri di kabinet Presiden Joko Widodo bukan suatu hal yang berlebihan.

Ketulusan untuk memberikan apresiasi terhadap pencapaian liyan memang masih harus dipupuk di negeri ini. Kebiasaan sosial di negeri ini tampaknya masih sangat sulit untuk memberikan apresiasi, tepuk tangan, atau pengakuan yang jujur atas kinerja dan prestasi orang lain. Sampai-sampai, di kalangan masyarakat sangat populer ungkapan, ”susah melihat orang senang, senang melihat orang susah.” Pemeo itu sedikit banyak mencerminkan perilaku sosial bangsa.

Lebih menyedihkan lagi, sikap negatif itu justru ditunjukkan oleh para tokoh politik, kelompok elite yang semestinya memberikan contoh dan teladan dalam bersikap. Berada dalam kubu oposisi secara politis terhadap pemerintah tidak berarti harus memposisikan diri sebagai musuh yang membenci siapapun yang berhadapan. Oposisi politik dibutuhkan untuk membangun pemerintahan yang sehat, tetapi tidak dengan cara dan kebencian dan permusuhan.

Merespons secara wajar adalah pilihan terbaik apabila masyarakat dan bangsa ingin tumbuh menjadi dewasa. Jika bangsa sendiri tidak mampu memberikan apresiasi atas saudara sebangsa, lantas siapa lagi yang akan menjunjung martabat dan jati diri bangsa? Sudah pasti apresiasi tidak diartikan sebagai sikap mengelu-elukan secara berlebihan, yang sebetulnya sama tidak eloknya dengan sikap antiapresiasi. Demikian pula, prestasi tidak perlu memunculkan arogansi.

Ada baiknya para elite membuka kembali puisi Dorothy Law Nolte Children Learn What They Live karena kaum elite sebenarnya adalah juga pendidik bangsa ini. ”Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri,” demikian beberapa baris pesan puisi itu. Janganlah bangsa ini dibesarkan dengan semangat negativisme.

Berita Lainnya