14 Februari 2018 | Ekonomi - Bisnis

Pemerintah Mendorong Riset Sawit

BANDUNG- Pemerintah melalui Badan Pengelolaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menggelar Pekan Riset Sawit Indonesia 2018 untuk menumbuhkan pengembangan dan mendorong riset sawit.

Ruang lingkup penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh BPDPKS saat ini termasuk bidang lingkungan, pangan, budi daya, oleokimia/biomaterial, pascapanen dan pengolahan, bioenergi, serta sosial ekonomi dan pengembangan pasar.

Ketua Dewan Pengawas BPDPKS Rusman Heriawan menyebutkan dana yang digelontorkan untuk riset pada 2017 mencapai Rp 37,3 miliar.

”Diharapkan dananya bisa naik jadi Rp 40 miliar,” tutur dia di selasela acara, kemarin. Dia memaparkan dana riset termasuk dalam alokasi pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang menggunakan pungutan ekspor sawit 2%.

”Untuk dana riset sekitar 1%, angkanya bisa berubah-ubah,” ungkap dia. Rusman menyebutkan target dana pungutan ekspor sawit tahun ini Rp 11 triliun. Merujuk angka tersebut, dana riset bisa mencapai Rp 100 miliar.

”Rencana untuk riset, bukan soal nominal, peran stakeholder dalam riset penting. Riset semestinya di dalamnya ada unsur-unsur; orientasi ke pasar juga, tidak hanya murni riset, mempelajari kebutuhan pasar apa sih,” ujar dia.

Direktur Utama BPDPKS Dono Boestami menyatakan tujuan mendorong penelitian dan pengembangan adalah untuk peningkatan produktivitas dan efisiensi, aspek keberlanjutan, serta penciptaan produk dan pasar baru.

Hasil-hasil riset yang didukung oleh BPDPKS diharapkan dapat dimanfaatkan baik oleh industri, pemerintah, maupun petani. ”Acara hari ini diharapkan mendorong budaya riset di sektor kelapa sawit, dan mudah-mudahan juga mampu mendorong budaya riset di sektor-sektor terkait lainnya,” tegas dia.

Pihaknya sudah menerima proposal riset yang masuk, jumlahnya sekitar 32. ”Proposal yang masuk kami terima, namun sejalan atau tidak dengan program,” papar dia. Penyelenggaraan pekan riset kali ini merupakan yang kedua dan menampilkan 22 hasil penelitian.

Antara lain teknologi dan produk terbaru berupa CNC, Bio- BTX, stabilizer thermal PVC, magnesium stearate, dan foaming agent untuk pemadam kebakaran; prototype/pilot plant produksi biogasolin, lemak kalsium; paket teknologi pemanfaatan limbah sawit zero waste; bibit sawit high yield dan high oleic acid, biosilika untuk cekaman kekeringan; serta aplikasi penentuan umur panen sawit dan model pencegahan kebakaran lahan gambut.

Sejak berdiri pada 2015, lanjut Dono, BPDPKS telah bekerja sama dengan 24 universitas negeri dan swasta, 13 lembaga pendidikan nonperguruan tinggi, 127 peneliti sSenior, serta 146 mahasiswa.

”Dari berbagai akivitas tersebut, kami menghasilkan 115 kontrak penelitian sawit, 101 publikasi ilmiah nasional dan internasional, 11 paten, dan menerbitkan 3 buku,” tutur dia. Ia menambahkan riset salah satu elemen penting dalam pengembangan sektor kelapa sawit, sehingga harus menjadi bagian dari proses utama pengembangan sektor tersebut.

”Riset harus mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi sektor kelapa sawit, misalnya masalah produktivitas petani swadaya yang rendah, penggunaan teknologi yang belum merata, serta kualitas SDM yang masih perlu diperbaiki,” jelas dia.

Ke depan, BPDPKS juga ingin meningkatkan level kegiatan penelitian dan pengembangan menjadi berskala internasional. ”Kami telah dan akan terus menjajaki kemungkinan bekerja sama dengan berbagai lembaga penelitian dan universitas terpandang di dunia untuk memberikan nilai tambah bagi kegiatan riset sektor sawit Indonesia,” ungkap dia.(J10-17)

Berita Lainnya