image
15 Februari 2018 | Wacana

Menjaga Asa Ekspor Jateng

  • Oleh Miyan Andi Irawan

PADAtahun ini, banyak praktisi yang memandang optimistis outlook ekonomi global dan Indonesia. Salah satu yang mendasarinya adalah kenaikan harga komoditas yang telah diklaim mengalami pemulihan sebagai pertanda meningkatnya permintaan global, sehingga akan mendorong perekonomian pada negara eksportir komoditas, termasuk Indonesia.

Namun, beberapa risiko tampak masih membayangi, seperti normalisasi kebijakan fiskal di Amerika Serikat, berupa penurunan suku bunga acuan di Negeri Paman Sam tersebut yang dikhawatirkan akan menyulut capital outflow dari Indonesia. Untungnya, likuiditas di Uni Eropa masih cukup besar sebagai imbas quantitative easing sehingga hal tersebut diperkirakan tidak terlalu berdampak pada perekonomian Indonesia.

Hal tersebut tentu menjadi kabar gembira, terutama bagi daerah yang mempunyai hubungan dagang langsung dengan AS. Jawa Tengah salah satunya. Hal ini tampak dari postur ekspor Jawa Tengah. Angka ekspor Jawa Tengah yang dirilis BPS pada awal tahun ini semakin memperkuat statemen tersebut.

Eskpor Jawa Tengah ke AS pada 2017 mencapai lebih dari 25?ri total ekspor Jawa Tengah. Secara agregat, ada tiga negara terbesar tujuan utama ekspor Jawa Tengah, yaitu AS yang menyerap 25,61%, disusul Jepang dan Tiongkok 11,87?n 9,63%. Hal tersebut menegaskan, AS menjadi negara mitra dagang yang menjadi penyerap ekspor terbesar Jawa Tengah.

Posisi penting AS sebagai mitra dagang bagi perekonomian Jawa Tengah juga makin dikuatkan dengan surplusnya neraca perdagangan antara Jawa Tengah dan AS. Sepanjang 2017, neraca perdagangan Jawa Tengah dengan AS membukukan surplus lebih dari 850 juta dolar AS. Padahal secara agregat, neraca perdagangan Jawa Tengah pada tahun yang sama mengalami defisit mencapai lebih dari 4.665 juta dolar AS.

Dalam postur ekonomi Jawa Tengah, tiga komponen terbesar penopang mesin ekonomi adalah konsumsi rumah tangga, ekspor-impor, dan investasi. Komponen ekspor memberikan andil sekitar 40% pada 2017. Dengan menganggap faktor lain tetap, maka pertumbuhan ekspor sebesar 1% akan berpotensi memberikan andil pada pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah sekitar 0,4%. Hal tersebut menegaskan bahwa ekspor menjadi motor ekonomi penting bagi perekonomian Jawa Tengah.

Dominasi Manufaktur

Oleh karena itu, mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tidak lepas juga dari menjaga kinerja ekspor. Kita patut bersyukur, karena ekspor Jawa Tengah tidak didominasi oleh komoditas sumber daya alam (raw material) yang sensitif terhadap gejolak harga dunia, akan tetapi justru didominasi oleh produk manufaktur, sehingga kinerja ekspor Jawa Tengah masih dapat bertahan saat harga komoditas sedang turun.

Sebagai ilustrasi, ekspor Jawa Tengah pada 2017 didominasi oleh dua produk manufaktur, yaitu tekstil dan barang dari tekstil, kayu dan barang dari kayu yang masing-masing berkontribusi terhadap total ekspor berturutturut sebesar 42,31?n 16,18%.

Dinamika ekspor Jawa Tengah menunjukkan bahwa sebetulnya ada masalah struktural di sektor hulu ekspor Jawa Tengah, yaitu berupa ketergantungan terhadap pasokan bahan baku yang sebagian besar masih diimpor. Salah satu contohnya adalah bahan tekstil.

Rilis BPS mengenai data impor Jawa Tengah 2017 menunjukkan impor bahan tekstil mencapai lebih dari 1.789 juta dolar AS atau setara dengan 17?ri total impor Jawa Tengah. Itu sekaligus menjadi komoditas impor terbesar kedua setelah minyak dan gas.

Pada skala makro, ketergantungan tersebut akan berisiko memperlemah nilai tukar rupiah dan menggerus devisa sehingga menyebabkan kebijakan-kebijakan ekspansif dalam mendorong ekspor menjadi cukup dilematis. Oleh karena itu, diperlukan kemampuan domestik dalam memasok bahan baku sehingga mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor secara bertahap.

Pendirian industri substitusi impor bisa menjadi salah satu pilihan. Pemerintah daerah dapat mendorongnya dengan menciptakan iklim investasi yang bersahabat, baik melalui penyediaan infrastruktur yang memadai maupun pemberian insentif lainnya.

Pada sisi eksternal, perlu kewaspadaan terhadap dinamika perekonomian global, terutama dinamika perekonomian negara yang menjadi mitra dagang terbesar (AS, Jepang, dan Tiongkok). Bagaimanapun, mereka adalah pasar produk manufaktur Jawa Tengah. Saat perekonomian mereka sedang prima, daya beli mereka tinggi, akhirnya akan mendorong permintaan terhadap ekspor Jawa Tengah.

Jika bercermin pada laporan World Bank (Global Economic Prospect) pada bulan lalu maka optimisme kinerja ekspor Jawa Tengah dapat diperkirakan akan cukup terjaga tahun ini karena perekonomian ketiga negara tersebut diperkirakan masih tumbuh dibandingkan dengan tahun lalu, terutama AS yang diperkirakan mengalami percepatan pertumbuhan ekonomi dari 2,3% pada 2017 menjadi 2,5% pada tahun ini.

Hal tersebut dapat menjadi stimulus yang akan melecut semangat pelaku industri di Jawa Tengah untuk meningkatkan produksi dan produktivitas, terutama industri-industri yang terkait dengan pasar ketiga negara tersebut. Dengan demikian, tidak berlebihan jika hal tersebut dapat menjadi angin segar di tengah upaya menjaga asa ekspor Jawa Tengah. (49)

Miyan Andi Irawan, Kepala Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Kabupaten Rembang.

Berita Lainnya