15 Februari 2018 | Solo Metro

Tak Ingin Sekadar Jadi Tukang Gambar

MAESTROpelukis wayang beber gaya Wonosaren, Hermin Istiariningisih (67) yang akrab disapa mbah Ning, tak ingin menjadi perupa setengah-setengah yang berorientasi pasar, atau sekadar tukang gambar yang berkarya saat ada pesanan. Sejak memulai nyungging (mewarnai-red) wayang beber tahun 1982, wanita kelahiran sebuah desa di kaki Gunung Penanggungan, Kediri (Jatim) 1951 itu bertekad menjadi pelukis profesional yang terus berkarya tanpa perlu menunggu pesanan. ‘’Saya tidak pernah menunggu pesanan. Sebab itu, hari-hari saya selalu sibuk berproduksi, melukis. Kalau saya baru melukis setelah ada pesanan, itu namanya tukang gambar, bukan pelukis. Gula darah dan tensi saya tinggi. Tapi itu bukan alasan untuk libur melukis. La kalau saya tidak melukis, terus mau apa. Bagi saya, melukis itu juga hiburan,’’ ujar istri mbah Tris (77) saat menjamu beberapa kru TV swasta jaringan internasional, di kediamannya Kampung Wonosaren, Jagalan, Jebres, kemarin.

Sambil menunggu kru TV dari Jakarta itu mempersiapkan peralatan wawancara dan shooting, mbah Ning dan mbah Tris (Soetrisno) terlibat dialog dengan semua tamunya yang menyaksikan pembuatan film pendek tentang ketokohan mbah Ning. Pembicaraan juga menyinggung kegiatan produksi, durasi proses pengerjaan setiap lukisan dan lain-lain.

Mbah Ning menjawab begitu lengkap dan panjang lebar, termasuk soal pembeli karyanya yang banyak datang dari luar negeri. Harga lukisannya memang terbilang mahal, mencapai Rp 25 juta/buah. Karena konsisten menjadi pelukis profesional, mbah Ning ingin mengisi hari-harinya dengan berproduksi atau berkarya. Itu semua butuh syarat jika badan sehat, segar dan hari serta pikiran lega. Untuk itu, perlu makan cukup, kebutuhan rumah tangga cukup dan beberapa kecukupan lain seperti istirahat atau kesehatannya. ‘’Kalau perut lapar, ya jelas mengganggu konsentrasi. Kalau tidak konsentrasi, melukis bisa salah terus. Mencampur warna, juga bisa salah terus. Kalau hati dan pikiran sedang kacau, apa lagi gula darah naik, tensi tinggi, jangankan seminggu, satu lukisan bisa rampung lebih sebulan,’’ ujar anak tunggal seorang veteran perang pada peristiwa 10 November 1945 di Surabaya yang bernama Soekarman itu.

Gaya bicara mbah Ning ketika melukiskan hubungan antara kondisi kesehatan dengan produktivitasnya yang ceplas-ceplos, sering terdengar menggelikan. Hal itu membuat semua yang ada di situ tertawa. Apalagi ketika kru TV meminta mbah Ning untuk memperagakan melukis di tempat tidur. Permintaan itu ditolak dengan nada kelakar. Katanya, maestro pelukis wayang beber itu takut berliannya mletik (rontok-red). Kelakar itu dimaksudkan, bahwa shooting di kamar tidur jelas kurang pantas, apalagi mengingat di situ menjadi tempat menyimpan segala perabotan rumah tangga. Pengambilan gambar dan wawancara yang dimulai pukul 08.30 itu selesai menjelang pukul 12.00. Kru TV itu langsung berpamitan setelah menyerahkan honor dalam amplop berisi uang Rp 300 ribu. Mbah Ning tampak biasa saja, tak mempermasalahkan honor sebagai nara sumber atau bintang dalam film pendek tentang ketokohan wanita pelukis wayang beber satu-satunya di Tanah Air itu. ‘’Saya melukis, tidak tahu kapan akan laku. Tetapi, saya punya banyak relasi misalnya di Bali, Jogja dan Jakarta yang setiap saat bisa saya titipi lukisan sebagai dagangan. Dari situlah, walau kecil nilainya, bisa untuk makan dan keperluan lain berdua dengan mbah Tris,’’ ujarnya di depan Hartono (pelukis) dan Hendra Setiawan (pemilik Museum Sekartaji, Bantul/DIY).(Won Poerwono-37)

Berita Lainnya