15 Februari 2018 | Suara Muria

Ada Intoleransi, Jangan Terprovokasi

JEPARA- Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adhi Nugroho meminta kepada masyarakat untuk bersikap dewasa, tidak terpancing maupun melakukan tindak intoleransi yang belakangan ini terjadi berurutan.

Penyerangan kepala pondok pesantren setelah melaksanakan salat subuh, penyerangan anggota Persis, persekusi salah satu tokoh Budha dan penyerangan di Gereja Santo Lidwina Bedog, Trihanggo, Sleman, Yogyakarta menurutnya, sebagai sinyal bahaya dan terorganisir. ”Ada aktor intelektual yang bekerja.

Bertujuan untuk memunculkan rasa khawatir, ketidakpercayaan terhadap aparat keamanan dan memecah persatuan,” katanya, saat jagong bareng pemuka agama di Pringgitan Pendapa Kabupaten Jepara, Rabu (14/2).

Nampak hadir, Dandim Jepara Letkol Czi Fahrudi Hidayat dan jajaran Forkopinda, PCNU, PD Muhammadiyah, kepala Bakesbangpol Jepara Dwi Riyanto, tokoh lintas agama, Badan Musyawarah Antar Gereja (Bamag), pengurus kelenteng, serta anggota Polsek se-Jepara.

Kapolres mengaku senang, dari peristiwa itu tidak ada respon negatif. Misalnya, usai penyerangan di Gereja Santo Lidwina Bedog, Trihanggo, Sleman, justru banyak umat muslim yang ikut bersih-bersih dan mengamankan.

”Saya senang karena warga kita sudah paham jika tindakan tersebut dilakukan oleh oknum yang ingin memecah-belah,” katanya. Soal Jepara, menurut Yudianto, sebenarnya cukup rawan.

Selain memiliki warga yang memeluk agama berbeda, letak geografis Jepara tidak di jalur Pantura bisa menjadi sarang teroris. Untuk itu perlu dibentuk sistem pengamanan masyarakat jika ada terjadi tindakan penyerangan di tempat agama maupun tokoh agama.

”Dengan sistem yang saya usulkan ini, jika terjadi penyerangan, maka warga sekitar sudah otomatis melakukan pengamanan. Sebab Polres memiliki keterbatasan personel. Tak seimbang dengan jumlah penduduk Jepara,” jelasnya.

Sementara itu, Dandim Jepara Fahrudi mengungkapkan, paska sejumlah kejadian intoleransi itu, jajarannya sudah mencermati situasi di lapangan maupun dalam kegiatan-kegiatan. Hasilnya, tidak ditemukan ancaman-ancaman. Seluruh warga Jepara menentang hal negatif dan tidak terprovokasi.

”Kendati aparat kemanan sudah mengawasi, kita mencoba mengedepankan agar masyarakat sendiri yang melakukan pengamanan awal. Melaporkan secara cepat ke aparat jika ada tindakantindakan,” katanya.

Sementara itu, Dwi Riyanto mengemukakan jika langkah pengamanan utama memang dari masyarakat desa. Sehingga pihaknya mendorong agar para petinggi mengaktifkan kembali Siskamling dengan menggandeng para pemuda.

Ketua Bamag Jepara Sri Alim Yuliatun meminta agar usulan dibentuk sistem pengamanan yang dilakukan masyarakat bisa direalisasikan secepat mungkin. Jika tidak di tingkat kabupaten, bisa difasilitasi di tingkat kecamatan.

Hal yang sama juga dikemukakan Pendeta David dan tokoh Hindu Ngardi Sindhu. Di lingkungan masing-masing sebenarnya sudah ada kelompok yang bertugas dalam pengamanan. Tinggal dibekali pengetahuan lain soal pengamanan. Seperti di Hindu ada Pecalang.(adp-75)

Berita Lainnya